24 Weeks Already ^_^

Well… akhirnya hatiku berbunga-bunga.

Setelah melalui beberapa kali kontrol kehamilan di RS Husada, yang semula dipilih karena lokasi tak jauh dari kantor dan tidak memakan waktu weekend… yang meskipun setelah dijalani ternyata “belum merasa cocok”, trus back to RS Hermina Depok dan menghabiskan waktu weekend di hari Sabtu dengan kemacetan dan antrian panjang dokter kandungan, yang pun setelah dijalani “belum merasa cocok”.

Finally di sela-sela waktu antrian kontrol bulan agustus lalu, saya coba-coba iseng browsing satu nama dokter yang pertama kali dulu menjadi dokter kandungan anak pertamaku di RS Puri Cinere, beliau adalah ….. dokter Dewi Prabarini (males banget kan yaaa…bayangin Cinere yang mucetttt puolll ituh… apalagi Brawijaya Hospital yang jauh alamaak…).

Bermula sekedar iseng mencari tahu alternatif waktu dan tempat lain prakteknya…eh, dapet deh tu hasil googling yang bikin antusias dan hati berbunga… karena tempat praktek barunya di depok, ada di Sawangan!!! Alhamdulillah….. next kontrol ke sana!! (luapan semangat bumil yang lagi nomaden visit kontrol hehehe).

Jadilah 2 bulan terakhir ini kontrol di RS Permata Depok. Hasil pemeriksaan terakhir, fokus perhatian di trimester akhir yang akan kujelang, mengingat plasenta di bawah, yg kadang cenat-cenut kalo kecapean, bobot tubuh yang mempengaruhi pernafasan alias “ngap banget”, stamina kesehatan yang sering banget drop kena flu…  sementara tugas-tugas kampus yang bisa bejibun akhir semester, sama kerjaan kantor akhir tahun ….jeng..jeng… Mudah2an bisa dijalani dg baik saja.

O iya…hampir lupa ku ungkap :  by USG she is a Girl!!… Meskipun td malam tetap mimpiku yaaa ..a Boy!!.. as Abang Dika’s wishes   ^_^

Belum pasti juga siy apa akan lahiran di RS Permata Depok, atau RS Puri Cinere… (bergantung kantong miswa…colek miswa ah) atau berujung lahiran lagi di RS Hermina Depok (kerjasama BPJS niy, lumayan bisa dikatrol bayar pribadinya kaannnn…). Wallahu a’lam.

Apapun nanti, semoga sampai tiba waktunya, berjalan sehat dan lancar, bumil sehat, dedek bayi sehat dan sempurna, lancar dan selamat semua pada waktunya…amiin yra.

Ann

Okt 16

 

 

 

 

Welcome to My Third…. Lovely

Selamat HUT RI ke-71, Semoga Maju dan Berjaya Indonesiaku.

17 Agustus dilewati kemarin… terasa membawa aura hidup yang  baru bagiku. Ada yang berubah, suasana kantor, kampus, rumah dan tentu saja…. itulah kuasa Allah atas ruang dan waktu bagiku.

“be Grounded” tetap menjadi kisah yang ditorehkan dalam rentang waktu lalu hingga kini. Namun demikian, keputusanku untuk kuliah lagi…. mengambil kesibukan untuk mengembangkan diriku pada hal yang lebih manfaat, benar-benar menjadi keputusan hebat di Oktober 2015. Hingga kesibukkannya telah kujalani lebih dari satu semester tahun ini.

Kerja-kuliah, hal yang tak mungkin dilakukan… menjadi mungkin untuk kulakukan. Hadirnya teman-teman baru, pemikiran baru di bidang selain kantor, lingkungan sosialisasi kampus, hingga hasil semester pertama yang cukup memuaskan dengan skor IP > 3,50, semua itu dipermudah Allah untuk menjadi obat dan penghibur diri dari kejenuhan rutinitas dan suatu “kesia-siaan” di kantor.

Semoga saja ilmu ini bermanfaat di masa yang akan datang.

Dan, alhamdulillah…. anugrah besar yang Allah berikan pada kami saat ini adalah kepercayaan memperoleh putra/putri ke-3. Nikmat yang luar biasa kujalani saat ini di masa kehamilanku yang ke-4 bulan. Semoga kelak terlahir sehat dan sempurna, sholeh/sholehah dan selamat dunia akhirat. Amiinn…amiinn…amiinn.. yra.

Sungguh Engkau sebaik-baiknya Pengasih & Penyayang, Sebaik-baiknya tempat mengadu dan memohon pertolongan, Seadil-adilnya Hakim, Sebesar-besarnya kekuatan…

Laa Haulaa wa Laa Quwwata illaa billah.

dari:

Hambamu, yang tak sempurna

Hambamu, yang meletakkanMU di depanku atas setiap lakuku…

Semoga Kau redakan, amarahku…..

Sebab hanya Engkau yang mampu menundukkan dan membuka pintu maaf dihatiku…

Dan itu hanya…. atas KuasaMU…

 

Ann,

18 Agustus 2016

 

 

Come to February 2016…..

February 2016 akan segera dijelang, bulan yang penuh dengan harapan, cita-cita, dan pencapaian…. Adalah jenjang bertingkat ketika sebuah harapan hanya terbersit di hati, sementara cita-cita menggelayut kalbu memercikkan bara api semangat menjalaninya, sehingga sebuah cita-cita diwujudkan dalam laku menuju pencapaian.

Harapan, adalah ketika diriku sekedar menulis di kertas kosong, dalam corat-coret tak berarti, tentang gelar magister di namaku. Kadangkala itu kupandang tak penting, namun ternyata di negara Indonesia tercintah ini, terbukti itu cukup penting.

Cita-cita adalah ketika ternyata aku dinyatakan lulus setelah melalui proses seleksi dan test, sehingga akan kujelang tahapan terberat dalam fase ini yaitu melalui proses perkuliahan, maka cita-cita adalah suatu hal yang perlu diingat saat lelah nanti agar tetap fokus. Cita-cita itu tentu saja bukanlah embel-embel yang diraih, tapi baiknya kusimpan sendiri semoga terwujud.

Adapun Pencapaian nantinya, ketika semua tahapan itu dilalui hingga sebuah legitimasi berupa sertifikat resmi diperoleh, dan selanjutnya memberi manfaat bagi diri dan orang lain dalam proses selanjutnya.

Di atas itu, cerita contoh.

Yang sebenarnya terjadi adalah, ada banyak hal baik yang kami terima di sepanjang tahun 2015 dan menghadirkan banyak senyuman. Namun demikian, hal baik tersebut membawa sebab-akibat dengan besarnya TanggungJawab yang akan diemban, dan pastinyaaaa… akan mempengaruhi “perubahan besar”, “mau-tidak mau” berimplikasi dalam keluarga.

Yang pertama di 2015 yaitu, bersyukur kepada Allah karena pada akhirnya suamiku menyelesaikan S2 nya di UI dengan predikat Cum Laude IPK 3,85…. Masa-masa pertengkaran kecil akibat tesis yang tak kunjung rampung memasuki akhir Maret-2015, fisiknya yg sempat drop di bulan Mei-Juni 2015, pontang-panting di bulan Ramadhan/Juli 2015 hingga larut malam sampai Sidang tesis di Ramadhan tahun lalu (ujian puasanya alhamdulillah juga poll), akhirnyaaaaaaa, alhamdulillah terlampaui…..

Senyum mengembang bagi kami sekeluarga di September 2015, ketika wisuda dilaksanakan. (Termasuk hutang janjiku untuk membelikannya jam tangan baru pun telah terpenuhi).

But the consequences still haven’t done. Tawaran ke Utrecht untuk S-3, dan usaha memperoleh LOA dari Kyushu University belum sempat terwujud. Terbentur Toefl/IELTS yang belum sempat terlaksana. Sebagai satu-satunya laki-laki dalam keluarga, kondisi orangtua kami saat itu pun dalam dilema. Yup, akankah pertaruhan kursi DPRD dengan kursi B*p*ti dapat diperoleh???? Pertaruhan yang cukup beresiko, karena implikasi pada keluarga akan sangat jauh berbeda ketika itu diraih, atau ketika itu gagal.

Yang kedua di tahun 2015. Alhamdulillah, pada hari yang ditentukan itu…. 9 Desember 2015, menjadi hari yang bersejarah dan mendebarkan. Bapak pun melenggang sempurna. Dan konsekuensi sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun yang akan datang seharusnya dapat kami persiapkan… bismillah.

Yang ketiga, ketika keputusanku membulat di bulan Oktober. Dilatari oleh kenyataan bahwa para Mayjen memang tidak dapat membungkukkan “Yang Punya Kantor”, bahkan Direkturku sendiri tak mampu menegakkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, sehingga sangat mengecewakanku…. Tidak apa, kadang2 memiliki integritas itu melelahkan, tapi Allah suka. Ketika pergi pagi pulang malam mencari rizki untuk keluarga, berusaha sendiri dengan maksimal dan itu melelahkan… tapi Allah suka. Maka kuterima semua permainan itu dengan tetap berkepala tegak dan bangga. Bahwa inilah diriku, si keras kepala.

Jadi pada Oktober 2015, kuputuskan untuk menjalani sebuah proses seleksi. Setelah 10 tahun lebih di luar kampus, dan rasanya banyak materi dasar yang terlupakan sehingga memaksaku mempelajarinya kembali. Bahkan ketika waktu ujian masuk itu ternyata adalah hari yang seharusnya aku bisa jalan-jalan di Singapura bersama rekan-rekan dalam perjalanan dinas ke Batam…. Pada akhirnya, kumemilih pulang untuk ujian!!

Dan pada tanggal 21 Desember 2015 ketika pengumuman disampaikan via email. Alhamdulillah, aku lulus🙂

Sehingga tibalah Januari 2016, hari ini. Semua persiapan dilakukan. Februari 2016, ketika pelantikkan Bapak akan dijelang, dan hari pertamaku kuliah lagi sambil kerja!!!

Wallahu a’lam, semoga konsekuansi selanjutnya dapat kami jalani dengan baik.

Aku, hanya bisa berdoa kepada Tuhanku. Allahu Robbi, tempat meminta dan memohon pertolongan, wa laa tusriku billah dan aku pun tidak pernah menyekutukanMu ya Allah. Maka semoga Engkau mengijinkan kami melalui semua ini dengan baik. Sebagai keluarga utuh yang bersatu!! awwalu ilal akhiru.

Semoga Eagkau ya ALLAh, memudah kan jalan kami, memberikan Rahmat, menuntun kami ke setiap jalan yang baik untuk kami tempuh, memudahkan perkara/urusan agar dapat diselesaikan, memberikan kesehatan dan kekuatan, dijauhkan dari segala kesulitan, dan berakhir pada berkah/manfaat bagi kami, keluarga dan lingkungan. Aamiinn yra….

Meskipun diriku masih meragu, dapatkah??? kerja+kuliah+urus keluarga??

Semangatku hanyalah padaMu Tuhanku, agar aku bisa menjadi manusia yang memberi manfaat dan kembali menegakkan diri ini pada sesuatu yang insyaAllah lebih baik.

Ann

29 Jan 2015

 

 

 

 

 

Tiga Hari Bersama Calon Penghuni Surga

Ini adalah salah satu kisah yang kusuka diantara banyak kisah nabi Muhammad SAW. Kisahnya menjadi petuah nasihat orang tua yang seringkali disampaikan saat anak-anak dulu. Berulang-ulang kali tentang pentingnya menjauhkan diri dari hasad dengki, iri hati, susah melihat kesenangan orang lain…. karena bila itu terlihat ada, maka ibuku cepat-cepat bilang…. senangkanlah hatimu atas kebaikan Saudaramu :)….. Yup, she is a Great Mother  I ever have!!

Adalah kisah Rosulullah SAW  ketika disuatu majelis, nabi berkata : “sebentar lagi akan datang seorang calon penghuni surga”, maka penasaran lah para sahabat saat itu. Tak lama kemudian masuklah seorang pemuda yang terlihat sangat biasa…. “Apa gerangan amalannya hingga dia disebut penghuni surga?”

Kejadian itu terulang 3 kali dan yang muncul selalu pemuda itu. Para sahabat tidak ada yang bertanya kepada nabi apa ibadahnya sehingga pemuda itu begitu istimewa? Diantara para sahabat itu, ada Abdullah bin Amr bin Ash yang ingin mengetahui kehebatan apa pada diri pemuda tersebut sehingga dia dikatakan calon penghuni surga?

Maka kemudian, suatu kali Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti pemuda itu hingga sampai di rumahnya. Abdullah minta izin untuk menginap, dia berkata ” wahai fulan, dapatkah aku tinggal sementara di rumahmu ini karena aku sedang dalam pertengkaran dengan ayahku?”

Pemuda itupun mengizinkannya tinggal bersama. Sepanjang hari bersama pemuda itu diamatinya baik-baik apa keistimewaannya.

Hari pertama dilalui, tidak ada yang istimewa dari pemuda itu, dia tidak membisakan sholat malam, bukan pula seorang ahli puasa, pemuda itu terbangun saat adzan shubuh berkumandang. Hari kedua dan ketiga dilalui, tak ada satupun hal yang menjawab penasarannya.

Maka ketika dia pamit, diapun berkata “wahai fulan, sesungguhnya aku tidak dalam pertengkaran dengan ayahku. Aku sengaja mengikutimu untuk mengetahu apa kelebihanmu sehingga nabi menyatakan kaulah calon penghubi surga”. Pemuda itu tersenyum, apa yang dia lakukan adalah hal yang biasa, tidak ada keistimewaan apapun dalam dirinya, dan dia merasa senang akan kabar itu.

Ketika Abdullah mulai beranjak pergi, pemuda itu memanggilnya kembali kemudian berkata, “wahai Abdullah, sesungguhnya aku tidak suka berhasad dengki kepada siapapun, tidak juga membiarkan rasa iri dalam hatiku. Tidak ada yang memberatkan hatiku kecuali hanya berserah kepada Allah swt dan bersyukur atas nikmatNYA”.

Dan aku teringat, waktu dimana ayahku menggandeng tangan kecilku menyusuri jalanan menuju sekolah taman kanak-kanak. Langkahnya cepat, agar aku terbiasa berjalan cepat, dan mengajarkanku lagu ” Disini senang, disana senang, dimana-mana hatiku senang …” Kemudian beliau berkata, “biarkan hatimu senang, dimanapun, belajarlah menjalani semuanya dengan baik, sepenuh hati, jangan sampai kau merasa sakit hati, senanglah selalu”

Mengenangnya menyimpulkan senyuman bagiku saat ini…

Kangennn

Ann,

Jan 2016

 

Be Grounded

Dari judulnya, maka yang tersirat dibayangan imaginasi kita pastilah sesuatu yang sangat menyakitkan, aura negatif kesal-amarah-kecewa… akan terlintas di kepala.  Yup!!! itu benar sekali… menjadi orang yang direndahkan oleh orang atau pihak lain, yang memiliki kuasa dan kewenangan atas sesuatu itu…. pasti tak ada yang mau. Terlebih bila itu dialami bertahun-tahun lamanya. But that happened, my dear…. to me😦

Bagiku, akan sangat disayangkan jika kita menyikapinya demikian sepanjang waktu. Segala sesuatunya butuh proses, bertahan-menjalani-belajar-merenungkan-memutuskan…itu semua rangkaian proses yang perlu waktu. Pada akhirnya, keputusan ada di diri sendiri, apakah bangkit dengan pemikiran sehat dan penuh semangat ataukah terpuruk dalam kecewa dan kesal yang pada akhirnya justru menjadi beban bagi jiwa sendiri, mengutuki kedzaliman, meminta agar Tuhan membalasnya dll…. Then finally, it your decision, it depend on what you choose!!

 

“Be grounded” memanglah suatu hal menjadi sejarah dalam kehidupanku di tahun 2013 hingga 2015 ini. Itu kulalui sebagai tahapan “merumput”, mencoba menikmati setiap ketidaknyamanan tersebut dengan posisi bertahan senyaman mungkin, bahkan berusaha tetap memberikan prestasi terbaik!!!

Dalam kehidupan yang penuh nikmat ini, hidup-tinggal di tanah air yang subur, kaya, aman-damai, bertahun-tahun melalui tahap sekolah dan bermain dengan teman, dikelilingi keluarga yang penuh kasih, bukankah itu semua kebahagiaan yang Allah berikan pada ku??…..  Demikian juga dalam kehidupa sampai saat ini, meskipun berada di dalam keluarga ningrat (kata ayahku, sebagai barep ke delapan Joyo Puspito-kasunanan Surakarta yang wallahu a’lam benar-tidaknya, meskipun bulikku di “kota…” pernah rutin mengikuti arisan keluarga para keturunan), atau keluarga suamiku yang punya nama besar di tanah air, yang meskipun dilimpahkan segala kecukupan, orang tua kami tidak pernah mengajarkan untuk “mudah memberi” sehingga kami harus mencari kehidupan sendiri dan berusaha dengan kaki sendiri…… Semua itu bukankah nikmat besar yang Allah berikan??

Ini adalah kisah perjalanan karirku di sebuah instansi pemerintah berstatus BLU yang dipimpin para jenderal terhormat. Memang harus disampaikan disini secara objektif sebab-akibatnya, karena apapun keputusan untuk men-“downgrade” oand make me “be grounded” itu legitimasi tertingginya ya ada di Dirut, dan beberapa kesalahan fatal telah kulakukan berhubung diriku ini sangat-sangat tidak bisa untuk “jilat-jilat” atasan. Just be me!! … Thinkfirst-Find the way-Do!!

Alhamdulillah, tahun 2012-2015 telah banyak kurampungkan tugas-tugas besar, yang memang “tidak besar” jika dilihat dengan kacamata kecil….  Bersama tim dengan isi kepala masing-masing dan karakter beragam, ternyata kami dapat merampungkan beberapa pekerjaan besar seperti Gerbang Utama, Jalan Tembus Marto, Gedung Kantor, Penataan Lanskap dan berhasil menyatukan aspirasi muda untuk berkarya!! Setidaknya aku pernah mencicipi adrenalinnya mencapai proyek besar dengan waktu singkat, mengatasi masalah yang ada dilapangan hingga semua bisa terealisasi ^_^

Bercerita tentang “Be Grounded” adalah ketika dipercaya untuk menduduki amanah jabatan selama 5 tahun, kemudian diberikan amanah tambahan sebagai pelaksana tugas jabatan diatasnya selama 1,5 tahun lebih, dan menjalankan sepenuh hati semampu diri melaksanakan hingga tercapai target-target instansi…. kemudian menjadi lulusan terbaik hasil fit and proper test, pada akhirnya pejabat teras yang duduk manis dan pasang telinga saja itu… ground my self to staff.Ho-ho-ho….–> tersedak!!

Bagi para jenderal, rumah jauh, kendala transportasi, kepentingan menuanaikan tugas sebagai ibu kepada anak2 di usia sekolah, tidak perlu dipertimbangkan sebagai alasan ketika keterlambatan sekian detik dari jam yang ditetapkan. Fyuuhhhhhh!!!

Rasanya pastiiii…. indah sekali kalian dapat mobil dinas, supir pribadi, bbm ditanggung dan sampai di kantor tanpa harus mematuhi jam yang ada. Mulussss…. Sedangkan diri ini punya tanggungjawab memasak dan mengurus krucil pagi hari, kemudian Depok ke Kantor hanya punya satu lintasan umum margonda-lentengagung-jakarta atau tol yang sereeetttt banget jalannya… hingga alternatif efektif hanyalah kereta api. Dan sayangnya, kereta api express telah hilang semenjak adanya penyesuaian ke Commuterline yang lebih banyak telaaaatttttt. OMG!! –> Sometimes I just complain in train to no body for the trouble schedule. Tarik napas panjang.

Disamping itu, memang ada “juragan yang punya kantor” yang berkuasa diatas semua Dewa-dewi Direksi. Yup, Promosi Direktur atas kinerja pegawai di Direktoratnya itu kalah di bawah keputusan Kadiv Administrasi, satu-satunya kadiv yang bisa keluarkan peraturan tanpa sosialisasi, naikin golongan pegawai yang baik hubungan dengannya atau menghambat golongan pegawai yang dia tak suka. Amazing kan??

Jadi gak aneh kalau Dirut di akhir tahun 2011 sudah secara langsung bicara di forum untuk mengangkat pegawai, mental. Direktur yang buat memo rekomendasi pada pegawai di Direktoratnya sampai 2 kali dalam masanya, mental juga. Dan semua nunut dibawah Kadiv Adm.

Kesalahan pertama yang kulakukan adalah, saat kupenuhi permintaan Dirku/KPA untuk membuat pelatihan PBJ dan menghasilkan lulusan baru bersertifikasi, dengan penuh loyalitas. Yang akhirnya ternyataaa….. setelah lulus jadi kaki tangan untuk menggeser yang lama, dan memenuhi arahannya.

Yang kedua adalah ketika suatu proyek pekerjaan perencanaan konstruksi “dipermainkan” PPK dan para lulusan baru itu, sehingga membuatku mengambil langkah mundur dari kepanitian lelang, selanjutnya membuat berang Ibu Dir Ku selaku KPA. Meskipun langkah itu mendapat respon positif dari Ka SPI dan itu hal biasa, kedepannya terbukti kemarahan Ibu itu menjadi penghambat terbesar bagi tahap karirku. Ka SPI akhirnya bergeser. Damn!!! that’s what beuracracy is!!

Yang ketiga adalah pembunuhan karakter akibat keterlambatan. Ini adalah pendzoliman ruarrrr biasa!!. Ketika suatu kali datang terlambat di 9.30 karena harus mengurus anakku  ke rumah sakit pagi buta, sementara kondisiku saat itu adalah satu2nya ibu/karyawati kantor dengan baby 3 tahunan, punya asma dan rumah terjauh saat itu), Ditambah tukang ojek “nyeleneh” berhenti tepat di depan mobil dirut yang baru datang.

Status “tukang telat” akibat keterlambatan 1, 2, 5 menit karena keterlambatan moda kereta api (penyesuaian express menjadi commuterline) yang diakumulasi selama setahun seperti ini :

Dalam 1 bulan, dengan waktu yang sama dan kereta yang sama di stasiun yang sama, rata-rata terjadi 2 s.d 4 kali keterlambatan baik disebabkan oleh gangguan wesel, rel putus, banjir, ditahan di manggarai, menunggu sinyal gambir. Maka dalam satu tahun rentang keterlambatan berjumlah 24 s.d 48 kali menyebabkan keterlambatan tiba di kantor antara 1 s.d 15 menit.

Akibatnya, jumlah keterlambatan pada absen tahunanku di 2012, 2013, 2014 berjumlah di kisaran 33 s.d <48 kali. Potongan perbulan dengan 1 kali keterlambatan adalah Rp. +-25.000, kelipatan 2x untuk 2 kali keterlambatan, sehingga maksimal 4x keterlambatan menjadi Rp.100.000,- Sedangkan keterlambatan 5 kali lebih dalam sebulan akan menjadi lipatan Rp 600.000 (25%), sehingga bila 8 kali keterlambatan terjadi dalam satu bulan habislah upah kinerja.

Tambahan yang terjadi pada di tahun 2015 adalah, dikeluarkannya Surat Peringatan akibat akumulasi jumlah keterlambatan di akhir tahun 2014 mengakibatkan :

  1. Pemotongan upah kinerja 25% selama 3 bulan berturut-turut (padahal tahun 2014 sudah dapat sanksi bulanan, dan akumulasi tahun 2014 menurut data administrasi yang masih kubantah karena kehilangan data pribadi, berjumlah 48 kali keterlambatan (data tidak transparan dikeluarkan admin).
  2. Ditunda kenaikan golongan (sejak 2006 bekerja, terhitung 2009 golongan tetap “stay”di III.a)
  3. Tidak dapat naik jabatan (walaupun sudah menjabat Kepala seksi sejak 2009, dan plt kasubdiv sejak 2013)… finally setelah membawa instansi ke gerbang remunerasi dengan penyelesaian renstra dan perhitungan KPI, resmi di downgrade jadi staf!!! amazing ^_^

All are lessons here… bahwa organisasi BLU ini banyak “politisasi”. U can’t be profesional as long U make some middle organizations feel uncomfort for the position!!

Commuterline, plzzzzz help!!! sampai kapan kalian bisa menetapi jadwal secara akurat??? then, where I should complain?? Perkembangan perhubungan darat dalam 4 tahun belakangan ini kuberi jempol 4 karena cuma itu yang kupunya, kalau bisa jempol lebih…. Great!! bagus sekali transformasinya, kereta ke bandara pun oke banget desainnya. Semoga semakin baik. Oleh karena itu seandainya bisa kumohon, Tepatilah jadwal!! kelalaian CL dalam menepati jadwal itu membuat saya, salah satu dari para commuters, kehilangan 200 ribu s.d 1,5 juta per bulan!! entah berapa banyak commuters bernasib sama.

Baik lah itu detailnya, kita lanjut ke pembahasan “be grounded” lagi.

Suatu kali pada acara ultah kantor di Juni 2014, ketika kusampaikan tentang perlunya pengendalian PKL di kawasan yang dikelola agar pekerjaan penataan-pemeliharaan tidak sia-sia. Para PKL agar dilokalisasi pada tempat-tempat yang sudah tersedia, tidak di area hijau/greenbelt menyebabkan rumput mati, tanaman rusak, sampah tak terbendung…. Ternyataaaaa…. ditanggapi Bapak Dirut terhormat, dengan : “kita harusnya merangkul PKL, karena mereka masyarakat kecil, biarkan saja mereka mencari nafkah dengan berjualan, Indonesia itu disenangi para turis karena ke”kumuh”annya”…. —> “what???!! buatku terperangah saat itu dan mengingatnya  baik-baik.

Suatu kali pernah saya berhadapan langsung dengan Kadiv Admin, pimpinan tertinggi instansi/Dirut, saya dan 7 orang pegawai lainnya. Semua pegawai hadir di ruang Dirut melalui surat undangan/panggilan sebelumnya. Ke-6 orang pegawai dipanggil karena tidak pernah ikut olahraga jum’at, saya dan seorang rekan dipanggil karena tidak olahraga pada jum’at sebelumnya. Aneh kan?? harusnya undangan dibedakan dong, lha wong kita datang terus koq olahraga….

Jujur saja, jum’at kali itu saya dan seorang rekan terlambat tiba. Lalu kami masuk lewat pintu samping. Sial sekali, pintu itu dikunci. Padahal sebelumnya, Dirut bilang “jika terlambat, lewatlah pintu samping, jangan pintu depan karena itu tdk sopan”.  Maka akhirnya keputusan kami berdua saat itu adalah kembali ke ruangan untuk bekerja, minggu depan maka saya harus lebih pagi lagi untuk menghindari case baru ini, bila ternyata terlambat pastilah lewat depan / pintu instruktur senam. Pertanyaannya adalah, kenapa tidak ada pemberitahuan? Ini boleh jadi jebakan!

Saat pertemuan di ruang Dirut itu, saat saya ditanya kenapa tdk olahraga (hebat ya, kantorku sampai segininya…) saya katakan “saya sudah hadir ke lapangan pak, tapi pintu samping (berpagar kawat tempat main tenis) terkunci, maka saya kembali ke ruangan. Kadiv Admin menyambut “Kenapa Saudara tidak lewat pintu depan”, Jawab saya lagi “karena Dirut pernah melarang lewat tengah, dan kami tidak tahu aturan baru, kenapa tidak diinformasikan sebelumnya dengan penunjuk arah misalnya”…. “Itu sebagai terapi kejutan karena anda suka terlambat!!” …. saya timpali lagi : “peraturan itu dibuat untuk memperbaiki sesuatu, itukad perbaikan, dan perlu sosialisasi untuk diketahui bersama, kenapa banyak sekali peraturan di masa ini bersifat sebagai jebakan??”

Seseorang yang arogan itu, dengan kewenangannya telah berteriak dengan nada tinggi padaku. Dan pimpinan pada akhirnya berkata padaku, “sudahlah, kamu diam saja, ini semua cuma permainan, santai saja” ucapnya tenang. Saya hampir tak percaya dengan apa yang saya dengar…. then keep silent…. itulah seseorang berpangkat mayjen, Dirut terhormat. Sangat sayang sekali…..

Padahal, dada saya merah putih…Jenderal!!… Dan tugas adalah amanat bagi saya!!… Tanggung jawab adalah selalu yang saya kedepankan!! Sayang anda tidak bisa menyentuh jiwa saya dan memilih lebih ber-kohesif dengan pejabat itu!!

Permainan, kata Anda tuan mayjen, sama sekali tidak menakutiku…. Permainan Tuhanku lah, yang aku takuti, maka aku berlindung kepadaNYa dari hal itu. Dan aku berdoa pada Tuhanku, karena benar dan salah itu terlalu tipis bedanya, menegakkan aturan ataukah berbuat dzalim itu tak dapat kulihat, dan hanya Allah yang tahu. Sementara diri ini tak boleh berburuk sangka, namun penasaran menghiasi kepalaku ketika benar-salah tersamarkan. Maka, di masa hisab nanti….. Saat kemarahan menggelora di dadaku, dan bibir kecil ini hanya mengingat dan berdzikir padaNya untuk menenangkan hati, telah kupinta dalam doaku saat itu, Suatu hari nanti di yaumil hisab, akan ada seseorang berbadan serigala berkepala keledai, mencari-cari diriku untuk meminta maaf, jika seandainya itu semua suatu kezaliman. Saat itu, akan teranglah sebuah kebenaran!!

Situasi, ruangan, percakapan…. masih terbayang jelas dikepalaku. Tidak akan kulupa!! Ingatanku cukup baik saat penaku mengalir, dan mengingat, adalah kelebihanku. Mungkin kamu tidak tahu, ketika kumenghapal, halaman, gambaran, kata-kata yang kuhapal…teringat jelas. Tidak semua orang mampu.

Ini semua adalah kisah, yang mungkin kelak akan menjadi hadiahku bagi anak-anakku!! Blog ini tak pernah kuceritakan, namun ceritanya mungkin kan kusampaikan esok hari. Menyerah, bukan takdirku….. Berjuang adalah ikhtiarku, akan terus menjadi api agar menjadi perisai bukti cinta bagi anak-anakku kelak. Ketika jatuh, jangan ratapi kejatuhanmu…. segera bangkit dan berjalanlah kembali, lelah itu biasa, sakit itu biasa, karena hidup akan selalu melalui hal itu…. Namun pemenang kehidupan, hanya untuk orang yang percaya pada Tuhannya. Hingga kita bisa tersenyum, pada akhirnya.

Kasih sayangku untuk keluargaku, adalah bahan bakar semangatku🙂

Untuk anakku, kadangkala apa yang baik yang kita lakukan tidak dihargai orang, tapi jangan berhenti untuk memberi yang terbaik. Suamiku pernah berkata-sebagai fisikawan, “tidak ada energi yang hilang, yang ada hanyalah perubahan energi”. Begitupun yang diajarkan agama kita, Islam yang sempurna. Maka teruslah berbuat baik meski orang lain tidak menghargainya. Buah itu pasti ada. Karena pemilik balasan itu hanya Allah azza wa jalla.

Disisi lain, aku menerima semua ini sebagai : mungkin ini adalah ujian dari Allah swt. Karena janjiku pada diri sendiri untuk mampu memberangkatkan ibu-bapakku ke tanah suci belum dapat tercapai…… Semoga Allah tidak menyurutkan asaku untuk tetap berusaha memberi yang terbaik, bermental kuat, diberikan kesehatan dan usia yang barokah, melancarkan rejeki ku…. Hingga aku bisa memenuhi janjiku itu sebelum waktunya tiba, berilah kesehatan pada mereka ya Allah.

All in Your Great Hand my Lord. I just fulfill all the duty by the best effort!!. Please, realize my goal. Aamiinn

To all children that I always love, I never angry when all menu I’ve cooked in the morning still in large portion when I comeback, mean u choose your grandma menu… coz she love you too… But I will always still do-cooking every day for all of U ^_^

Tetaplah lakukan yang terbaik ^_^

Best regard,

Ann

Jan’16

 

 

 

 

 

KENDALI DIRI

Dua hari yang lalu saya diutus instansi menjadi salah satu peserta dalam sebuah pelatihan/bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh PPM – LPKN. Fokusnya ke 2 jenis  pengadaan yaitu “Pengadaan Langsung dan Penunjukkan Langsung”. Kalau sudah malang melintang di dunia pengadaan, menyelami permasalahan hukum dan patgulipat usahanya para penyedia b/j, boleh dibilang yang satu itu sangat mudah pelaksanaannya, sedang yang satunya sangat dihindari/perlu pertimbangan tingkat tinggi untuk sampai pada keputusan Penunjukkan Langsung.

Namun demikian, dua hari itu terasa seperti angin segar di antara rutinitas kantor yang membosankan, bahkan kadang menjadikan diri ini tenggelam dalam kesibukan hingga lupa bagaimana mengembangkan potensi diri.

Jadi, tak salah jika kumaksimalkan kesempatan yang ada dengan berkata pada diri sendiri bahwa : “It cost, so I must find the value in it”.

Ada dua kalimat yang akan kusimpan dalam tulisan ini, karena kata-kata itu terngiang terus di kepalaku sampai saat ini, sederhana tapi tidak pernah diformulasikan selama ini. Kalimat tersebut tidak untuk dijadikan falsafah/tuntunan hidup, hanya sekedar rambu perhatian.

Kalimat yang pertama kuperoleh dari seorang motivator yang cukup ternama di tanah air pada pembukaan acara, tentang “update mindset” dengan pemikiran dan semangat energi positif. Bersumber dari abangnya Efendi Gozali :

bukan suatu dosa jika seseorang dilahirkan dalam kemiskinan, namun berdosalah jika seseorang menetapkan dirinya dan keluarganya hingga akhir hayat dalam kemiskinan”  Djohan Gozali.

Ini tentang berusaha maksimal hingga akhir hayat, berdosa bila seseorang terlahir dalam kemiskinan lalu membiarkan keluarganya dalam kemiskinan tanpa mau berusaha keras memberikan yang terbaik bagi keluarganya .

Kata miskin itu bisa bermacam makna, miskin harta, miskin ilmu, miskin kebahagian, miskin kasih sayang dan lain sebagainya. Jadi kalo sederhananya Bapakku pernah bilang dulu adalah : “Bapakmu ini berusaha agar besok kamu lebih baik dari Bapak, Nduk… Besok kamu juga harus demikian kepada anak-anakmu, lebih baik lagi”  Waktu itu kutelan mentah-mentah kalimat itu, tidak sampai berpikir bahwa aku perempuan, apakah mungkin bisa?? Nyatanya, memang aku memilih menjadi perempuan mandiri (saat ini). Dan nasihat Bapakku itu masih terhias indah di kepala.

Yang kedua kuperoleh dari Ir.Sutan S. Lubis, M.Sc yang pernah menjadi Ketua Tim Teknis Penyusun Perpres 54/2010

Kita tahu bahwa korupsi itu berdosa dan mendekatkan diri kita dalam neraka, namun alangkah egoisnya kita bila sampai  menjerumuskan anak dan istri kita ke dalam neraka atas hasil haram yang didapat”  

MasyaAllah…. Naudzu billahi min dzalik

H A T I  – H A T I…………………………………….

Secara esensi harfiah…. Bila direnungkan berkali-kali dan kutuangkan dalam tulisan ini, kedua isi kalimat tersebut bertolak belakang. Tapi bila digabungkan, akan berkait temali yang menguatkan satu sama lain. Sehingga ibarat dua kaki untuk berjalan, maka kedua kalimat itu menjadi sempurna…………… untuk dijadikan pegangan.

Tidak ada kesempurnaan di dunia ini, melainkan kesempurnaan untuk senantiasa :

“menyempurnakan setiap ketidaksempurnaan”.

Boleh lah juga kumengenang, saat Bapakku dulu bilang :

“Belajarlah untuk Melakukan Kendali Atas Dirimu” (marah, sedih, ngantuk, senang, bahagia, kecewa, semuanya harus dapat dikendalikan, hingga tepat pada takarnya)

 

Ann

25 September 2013

Molluscum Contagiosum

Apakah pernah dengar atau mengalaminya?? ini adalah salah satu jenis penyakit kulit yang umumnya terjadi pada anak-anak. Itu baru saya ketahui setelah browsing dan baca di (lebih banyak) artikel (umumnya) dari luar negeri tentang penyakit kulit yang disebabkan oleh virus ini. Bentuknya seperti kutil namun bening, bersifat lunak dengan bagian inti di tengah-tengahnya berdiameter ± 2-6 mm.

Semula hanya terdapat 2 buah “bintilan” di pangkal lengan anak laki-lakiku yang berusia 3 tahun. Setelah dibawa ke dokter kulit dan diberi obat salep racikan, sampai salepnya habis tidak juga hilang. Kemudian saya coba teteskan callusol setiap hari namun karena menimbulkan pengikisan kulit sehingga ada rasa sakit, anakku gak mau diobati lagi. Bisa pake acara kejar-kejaran atau nangis-nangis gitu, gak tega deh, akhirnya berhenti gak tuntas. Setelah itu bintilannya malah semakin banyak.

Jarak waktu dari pertama kali kubawa ke dokter kulit bulan april 2013 hanya 2 buah bintilan, sekarang di tanggal 14 bulan September 2013 jumlahnya menjadi 20-an buah.

Setelah membesar, “bintilan” itu akan berwarana sedikit merah atau merah jambu dan gatal, sehingga mengundang anak untuk menggaruk yang mengakibatkan pecah lalu terjadi penyebaran di bagian kulit yang lain. Ini yang menggemaskan, bintik kecil calon bintilan itu mulai kelihatan lagi di bagian leher dada dan beberapa tempat di tubuh anakku.

Hari Sabtu tanggal 14 September 2013, kembali aku datangi dokter spesialis kulit (yang lain) masih di rumah sakit yang sama di Depok dengan dokter GG. Dokter tidak memberinya obat apapun kepada kami. Hasil diagnosa di pangkal lengan anakku itu sebagai Molluscum Contagiosum. Setelah berdiskusi cukup lama, solusi yang ditawarkan adalah melakukan tindakan cauter dengan electrical dan laser untuk menghentikan perkembangan virusnya melalui  operasi dengan bius anestesi total.

Suamiku tak banyak bicara menanggapi hal tersebut, hanya saja raut wajahnya sepertinya kurang setuju. Dalam beberapa pertanyaan yang diajukannya nampaknya dokter hanya punya satu jalan itu.

Akhirnya karena tidak ada keputusan dan dokter mendesakku untuk mempertimbangkan sambil membuat surat rujukan, saya sepakat dengan saran yang disampaikan, menjadwalkan hari tindakannya,  dan mencoba untuk menindaklanjuti kepastian penanganan asuransi kesehatan atas biaya yang nanti akan dikeluarkan.

Namun sesaat setelah keluar dari ruang dokter itu, kami berdebat hebat (ya, semacam adu pendapat lebih tepatnya siy). Mungkin karena tindakanku yang terlalu cepat ambil alih keputusan. Lha wong dokternya balik lagi berbicara padaku koq yaaaa…. Klop deh.

Jujur saja aku ini mungkin fobia kecil-kecil bulet, totol-totol atau semacamnya itu, pasti buat aku geregetan. Jangankan bintilan-bintilan kecil menggemaskan ini, jerawat papa, atau orang terdekat yang kulihat pasti dengan senang hati kupencet, kubersihkan, ku beri alcohol dan kurawat, karena aku gemes, gak suka. Apalagi ini???

Jadi, bagaimana mengatasinya?? Apakah mengikuti pendapat browsing artikel-artikel bahwa nanti hal itu akan hilang sendirinya sesuai dengan daya tahan tubuh anak?? Tapi bagaimana perawatannya agar tidak menyebar banyak??

Di sisi lain, saya terima pendapat papa bahwa tindakan operasi tidak diperlukan dan mencoba mencari solusi lain. Mengapa infeksi kulit harus ditangani dengan tindakan operasi?? tanyanya balik. Ada rujukan ke 3 dokter ahli terlebih dahulu, dokter anestesi, internis dan apalagi aku lupa. Hal itu karena anestesi total akan berdampak pada pantauan denyut jantung dan tekanan darah selama operasi. Kemudian masa perawatannya diberi antibiotic, kemudian perawatan atas luka cauter-nya lagi. Seolah-olah hal kecil menjadi sedemikian besar, menurutnya.

Aku tercenung………. Tidak ada argumen yang lebih baik untuk membantah, itu final sudah. Ya, ini terkait dengan sesuatu yang dimasukkan ke tubuh anakku, dan aku pun memang tidak bisa terima. Dia hanya anak kecil. Rasanya memang belum perlu melakukan tindakan besar itu. Bisa-bisa “bunuh nyamuk dengan meriam??”

Akhirnya aku manut deh. Tapi aku minta papa untuk care juga sama hal ini. Cari solusinya, karena aku blank…………

Hari minggu siang 15 September 2013, suamiku mengajakku ke pasar untuk beli antena TV dalam. Ternyata??? Ho-Ho-Ho…. Beli juga si kapur sirih. Sampai dirumah, Dika dipanggil papa buka bajunya. Lalu diolesnya satu persatu di atas bintilan itu. Rapih.

Sore harinya mau mandi, kulihat bintilan itu mengecil, yang sudah pecah-luka-memerah, sore itu mengering. Aku senang sekali saat sore hari memandikannya. Ada perubahan sedikit-sedikit pada bintilannya.

Kedepan tampaknya, pekerjaan itu akan menjadi project serius kami. Perkembangannya akan menjadi perhatian kami. Sampai kapan-tidak tahu, tapi pastinya sampai si “molluscum contagiosum” itu bersih tak kembali.

Berdo’a, Semoga Allah segera mengangkat penyakit ini. Dan maafkan mama nak, karena mama hanya inginkan yang terbaik, tanpa berpikir panjang (mentang-mentang asuransi kantor bisa cin-cai hihihi).  Maafkan mama juga pa, karena mama emosional dalam debat”bintilan” ini.  Papa memang sayang kalian, jadi sedikit over protective memang adalah cara yang ditempuhnya. Papa  SAYANG kalian ^_^

Hari ini aku baru benar-benar browsing :

“The mollusca (the warty bumps) develop 2-8 weeks after you become infected with the virus. Typically, each molluscum lasts about 6-12 weeks, crusts over, and then goes. However, new ones tend to appear as old ones are going as the virus spreads to other areas of skin. Therefore, crops of mollusca may appear to come and go for several months.
It commonly takes 12-18 months before the last of the mollusca goes completely. Occasionally, the condition lasts longer than two years – sometimes as long as five years. For some people, the main concern is that the mollusca can look unsightly. However, most children are not bothered by it.”

Bersyukur, gak jadi majuin rekomendasi dokter ke meja administrasi rumah sakit. Kusimpan rapi di buku berobat. Meskipun sempat “sewot” sama petugas adm rumah sakitnya…..wkwkwk

“Kekuranganmu adalah kelebihanmu, kelebihanku adalah kekuranganku”

Ann

16 September 2013

This entry was posted on September 16, 2013, in Tak Berkategori. 14 Komentar