Molluscum Contagiosum

Apakah pernah dengar atau mengalaminya?? ini adalah salah satu jenis penyakit kulit yang umumnya terjadi pada anak-anak. Itu baru saya ketahui setelah browsing dan baca di (lebih banyak) artikel (umumnya) dari luar negeri tentang penyakit kulit yang disebabkan oleh virus ini. Bentuknya seperti kutil namun bening, bersifat lunak dengan bagian inti di tengah-tengahnya berdiameter ± 2-6 mm.

Semula hanya terdapat 2 buah “bintilan” di pangkal lengan anak laki-lakiku yang berusia 3 tahun. Setelah dibawa ke dokter kulit dan diberi obat salep racikan, sampai salepnya habis tidak juga hilang. Kemudian saya coba teteskan callusol setiap hari namun karena menimbulkan pengikisan kulit sehingga ada rasa sakit, anakku gak mau diobati lagi. Bisa pake acara kejar-kejaran atau nangis-nangis gitu, gak tega deh, akhirnya berhenti gak tuntas. Setelah itu bintilannya malah semakin banyak.

Jarak waktu dari pertama kali kubawa ke dokter kulit bulan april 2013 hanya 2 buah bintilan, sekarang di tanggal 14 bulan September 2013 jumlahnya menjadi 20-an buah.

Setelah membesar, “bintilan” itu akan berwarana sedikit merah atau merah jambu dan gatal, sehingga mengundang anak untuk menggaruk yang mengakibatkan pecah lalu terjadi penyebaran di bagian kulit yang lain. Ini yang menggemaskan, bintik kecil calon bintilan itu mulai kelihatan lagi di bagian leher dada dan beberapa tempat di tubuh anakku.

Hari Sabtu tanggal 14 September 2013, kembali aku datangi dokter spesialis kulit (yang lain) masih di rumah sakit yang sama di Depok dengan dokter GG. Dokter tidak memberinya obat apapun kepada kami. Hasil diagnosa di pangkal lengan anakku itu sebagai Molluscum Contagiosum. Setelah berdiskusi cukup lama, solusi yang ditawarkan adalah melakukan tindakan cauter dengan electrical dan laser untuk menghentikan perkembangan virusnya melalui  operasi dengan bius anestesi total.

Suamiku tak banyak bicara menanggapi hal tersebut, hanya saja raut wajahnya sepertinya kurang setuju. Dalam beberapa pertanyaan yang diajukannya nampaknya dokter hanya punya satu jalan itu.

Akhirnya karena tidak ada keputusan dan dokter mendesakku untuk mempertimbangkan sambil membuat surat rujukan, saya sepakat dengan saran yang disampaikan, menjadwalkan hari tindakannya,  dan mencoba untuk menindaklanjuti kepastian penanganan asuransi kesehatan atas biaya yang nanti akan dikeluarkan.

Namun sesaat setelah keluar dari ruang dokter itu, kami berdebat hebat (ya, semacam adu pendapat lebih tepatnya siy). Mungkin karena tindakanku yang terlalu cepat ambil alih keputusan. Lha wong dokternya balik lagi berbicara padaku koq yaaaa…. Klop deh.

Jujur saja aku ini mungkin fobia kecil-kecil bulet, totol-totol atau semacamnya itu, pasti buat aku geregetan. Jangankan bintilan-bintilan kecil menggemaskan ini, jerawat papa, atau orang terdekat yang kulihat pasti dengan senang hati kupencet, kubersihkan, ku beri alcohol dan kurawat, karena aku gemes, gak suka. Apalagi ini???

Jadi, bagaimana mengatasinya?? Apakah mengikuti pendapat browsing artikel-artikel bahwa nanti hal itu akan hilang sendirinya sesuai dengan daya tahan tubuh anak?? Tapi bagaimana perawatannya agar tidak menyebar banyak??

Di sisi lain, saya terima pendapat papa bahwa tindakan operasi tidak diperlukan dan mencoba mencari solusi lain. Mengapa infeksi kulit harus ditangani dengan tindakan operasi?? tanyanya balik. Ada rujukan ke 3 dokter ahli terlebih dahulu, dokter anestesi, internis dan apalagi aku lupa. Hal itu karena anestesi total akan berdampak pada pantauan denyut jantung dan tekanan darah selama operasi. Kemudian masa perawatannya diberi antibiotic, kemudian perawatan atas luka cauter-nya lagi. Seolah-olah hal kecil menjadi sedemikian besar, menurutnya.

Aku tercenung………. Tidak ada argumen yang lebih baik untuk membantah, itu final sudah. Ya, ini terkait dengan sesuatu yang dimasukkan ke tubuh anakku, dan aku pun memang tidak bisa terima. Dia hanya anak kecil. Rasanya memang belum perlu melakukan tindakan besar itu. Bisa-bisa “bunuh nyamuk dengan meriam??”

Akhirnya aku manut deh. Tapi aku minta papa untuk care juga sama hal ini. Cari solusinya, karena aku blank…………

Hari minggu siang 15 September 2013, suamiku mengajakku ke pasar untuk beli antena TV dalam. Ternyata??? Ho-Ho-Ho…. Beli juga si kapur sirih. Sampai dirumah, Dika dipanggil papa buka bajunya. Lalu diolesnya satu persatu di atas bintilan itu. Rapih.

Sore harinya mau mandi, kulihat bintilan itu mengecil, yang sudah pecah-luka-memerah, sore itu mengering. Aku senang sekali saat sore hari memandikannya. Ada perubahan sedikit-sedikit pada bintilannya.

Kedepan tampaknya, pekerjaan itu akan menjadi project serius kami. Perkembangannya akan menjadi perhatian kami. Sampai kapan-tidak tahu, tapi pastinya sampai si “molluscum contagiosum” itu bersih tak kembali.

Berdo’a, Semoga Allah segera mengangkat penyakit ini. Dan maafkan mama nak, karena mama hanya inginkan yang terbaik, tanpa berpikir panjang (mentang-mentang asuransi kantor bisa cin-cai hihihi).  Maafkan mama juga pa, karena mama emosional dalam debat”bintilan” ini.  Papa memang sayang kalian, jadi sedikit over protective memang adalah cara yang ditempuhnya. Papa  SAYANG kalian ^_^

Hari ini aku baru benar-benar browsing :

“The mollusca (the warty bumps) develop 2-8 weeks after you become infected with the virus. Typically, each molluscum lasts about 6-12 weeks, crusts over, and then goes. However, new ones tend to appear as old ones are going as the virus spreads to other areas of skin. Therefore, crops of mollusca may appear to come and go for several months.
It commonly takes 12-18 months before the last of the mollusca goes completely. Occasionally, the condition lasts longer than two years – sometimes as long as five years. For some people, the main concern is that the mollusca can look unsightly. However, most children are not bothered by it.”

Bersyukur, gak jadi majuin rekomendasi dokter ke meja administrasi rumah sakit. Kusimpan rapi di buku berobat. Meskipun sempat “sewot” sama petugas adm rumah sakitnya…..wkwkwk

“Kekuranganmu adalah kelebihanmu, kelebihanku adalah kekuranganku”

Ann

16 September 2013

This entry was posted on September 16, 2013, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. 14 Komentar

14 thoughts on “Molluscum Contagiosum

  1. alhamdulillah sudah sembuh, bagaimana sekarang perkembangan molluscum nya bunda apakah sudah benar benar bersih.

    Kebetulan anakku sama penyakitnya, ke erha clinic dikasih alternatif sama dengan tulisan bunda. Aku mau tanya:
    1. Sehari berapa kali kapur sirihnya dipake
    2. Tinggal diolesi saja kapur sirihnya atau dikasih ramuan lainnya

    Tolong share ya bunda.

  2. Perkembangannya masih terus diawasi bun, nampaknya gak semudah saya kira. Minggu lalu bagian lengannya sudah bersih (kempis bintilannya) dan menjadi ruam merah agak kering. Mungkin pengaruh kapur sirih yang panas ke kulit ya bun, jadi agak sedikit “terbakar”, hanya saja tidak sakit koq. Anak-anak masih bisa dibujuk pakai terus. Saya kenakan 2x sehari sehabis mandi. Tapi saya lihat akhir pekan kemarin masih membesar lagi sebagian. Sampai sekarang masih saya oleskan, menggunakan cotton bat tepat di tengah2 bintilan.
    Untuk ramuan, saya belum pernah pakai. Tapi suami saya yang dibesarkan di daerah mengatakan kalau dulu dia menggunakan sejenis ramuan dari getah buah alami. Sayangnya saya belum berani coba bunda.
    Semoga lekas sembuh.

    • Halo bunda, apa kabar, gimana kabar si kecil?? Apakah sudah membaik molluscum nya?

      Minggu lalu saya ke spesialis kulit di graha medika, dan untuk Obat nya dikasih dua.
      1. Sirup untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
      2. Salep, yang kalau saya tanya dokternya katanya bila diolesi di bagian yang benjolan akan mempunyai efek gatal, kemudian akan digaruk oleh anak, terus akan copot dikit demi dikit

      Tapi masalahnya gak ngaruh, sekarang kok makin bertambah.

      Gimana dengan anak bunda, apakah ada kemajuan???

      • Sebagian hilang, tapi tumbuh lagi di tempat lain bu. Tiap habis mandi saya masih oleskan kapur sirihnya bu. Pernah tumbuh lagi di bagian wajah, lebih cepat sembuhnya/hilang. Di area pantatnya juga hilang. Kalau yang di lengan kanannya tumbuh terus bu, yang lama mengering hingga hilang tapi tumbuh lagi. Sekarang di leher, dada, punggung dan lengan kanan. Totalnya kurang lebih 10-15. Saya kira masih belum perlu dioperasi, berharap saat besar nanti dia hilang sendiri.
        Kalau ibu dikasih salep apa, boleh saya tahu??

      • Sekarang anak saya sudah sembuh bunda, bersih. ^_^ Saya olesin alkohol 70% yang biasa dijual apotik tiap habis mandi, agak sakit sedikit dan langsung bereaksi, kurang lebih sebulan kemudian bersih dan gak dateng lagi.

  3. Terima kasih bunda atas clarifikasinya, semoga cepat sembuh juga.

    Kalau membesar lagi berarti virus nya belum hilang total ya Bun, gimana ngilangin nya ya ?

    Saya kasih ke anak saya sehari sekali pas mau tidur saja, karena takut kepanasan, memang agak mengecil tapi apakah sembuh total belum tau.

    Gimana perkembangannya seminggu terakhir ini Bun ?

    • Hallo bunda.. maaf mau tanya bun.. anak sy juga kena virus ini, ada banyak bintilan di tangan kaki pantat dan perut. Kalau pakai alkohol di gosok dengan kain kassa gitu ya bun bintilnya? Brp lama menggosoknya bun dan agak kencang atau perlahan2 saja ya bun. Terima kasih sebelumnya ya bun

  4. hi bun, saya skrg jg lg mengalami hal yg sama dan opsi2 yg ditawarkan dokter jg sama. ketika salep dan obat anti-viral tdk bereaksi, maka jln yg ditempuh adl operasi. cuma saya blm bisa ngebayangin gmn berontaknya anak saya kl dibawa ke ruang operasi.
    trs cara yg efektif yg mana ya bun, pake kapur sirih ato pake alkohol 70‰ soalnya bintik2nya makin banyak.
    makasih ya bun atas sharingnya

    • Sebelumnya saya minta maaf baru buka-buka blog lagi jadi baru sempat jawab. Menurut pengalaman saya alkohol lebih efektif. hanya saja efeknya seperti “lebih berasa” atau nyut2 gitu karena anak saya agak susah ngasihnya jadi pas dia tidur saja. Sekarang sudah hilang sama sekali semuanya…. Penyakit ini butuh kesabaran banget saja koq. Nanti dia hilang sendiri asal kita rajin mengobatinya. Semoga sekarang anak Bapak sudah sembuh ya..

      • Wah, jadi ingat pernah tanya di sini. Hehe..
        Alhamdulillah mbak, ternyata anak saya cuma kena nyamuk. Jadi setelah merah-merah, berubah jadi bintilan isi cairan.🙂
        Trims mbak sudah menjawab ^_^

  5. sore mbak,salam kenal. saya berusia 25th, smenjak 6th lalu tiba2 saya mendapat benjol kecil2 dibagian bahu punggung belakng. namun hanya 1 tempat saja. saya sempat k dokter uki, namun beliau sama sekali tidak memberi tahu penyakit ini apa, hanya bilang perlu di bakar/cauter. sampai sekarang msh ada dan saya masih bingung kalo ke dokter takut salah diagnosis. akhirnya saya membeli kapur sirih.

    yang saya ingin tanyakan, apakah mollusicuk kalo dipencet seperti keloid? kadang mengeras, kadang melembek? kadang kecil dan kdang membesar dg sendirinya mbak? dan setelah diolesi kapir sirih benarkah rasanya gatal?

    saya ingin mendapat second opinion krn selama ini dokter mengira ini acne yang berbuah jadi keloid😦

  6. Hy bunda… gimana kabar si kecil? Apa setelah beberapa bulan terakhri molluscumnya nga balik lagi?
    Anakku sekarang usianya 1 tahun 3 bulan… waktu dia masih 3 bulan, di bagian belakanngnya timbul satu bintik yang membuat saya penasaran.. tapi karena kata mama bintik itu biasa saja dan pasti hilang, aku nga ambil perhatian lagi.. setelah sudah mao 1 tahun saya lihat bibtik2nya mulai membanyak di bagian leher dan beberapa juga diabian wajah. Karena mulai gelisah, saya akak suami ke dokter kulit. Waktu itu kami nga di kasih obat apa2 , dokternya bilang imun anaknya harus di jaga nanti hilang sendiri. Tapi lama2 bun saya lihat bintik2nya nga hilang malah tambah banyak. Padalah masalah makannya si dede saya sudah awasi sekali sape se higenis mungkin. Karna bintik2nya makin banyak saya ambil keputusan untuk ke dokter kulit yang lain. Hasilnya kata dokter bintik2 itu adalah virus molluscum. Dokternya kasih kita saleb, sabun sama 1 macam obat.. Trus kata dokter kalo 10 hari bintik2nya nga hilang harus dikwluarkan dgn cara diangkat bisa dikatakan semacam operasi kecil gitu. Meskipun kata dokter dedenya nga akan ngerasa sakit, nga membekas dan hanya perlu bius local, saya merasa khawatir dan kurang setuju ubtuk tindakan itu…

    Waktu saya brows saya baca artikel ini dan sangat membantu saya…
    Bun saya ingin tanyakan untuk anak saya yanv usianya 1 tahun 3 bulan apa bisa pake kapur sirih? Mana yang ampuh bun kapur sirih atau alkohol? Caranya gimana bun?
    Mohon infonya yah bun. Trima kasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s