CAWANG JULI 2013

Semenjak cabe merah bisa terbang ke langit nun tinggi, karena harganya sejak 5 (lima) bulan yang lalu merangkak, oh, bukan, melejit-naik barangkali lebih tepat, semenjak itu pula banyaklah bibit-bibit cabai disemai di halaman rumahku. Syukurnya lahan pekarangan yang tidak terlalu luas di rumah bersedia menyuburkan harapan kami hingga tumbuhlah pohon-pohon cabai merah besar yang lumayan menyenangkan hati saat-saat diperlukan, meski tidak banyak.

Itupun sebenarnya jadi gawean “senang-senang”nya papa…. Menanam tunas-tunas cabai yang telah tumbuh dipindah ke halaman rumah. Ditatanya dengan rapih, dan diberi batang bambu pendek diikat rapia. Begitu cabai-cabai tumbuh, senanglah hatiku ^_^

Tapi, kembali lagi salah satu idolaku di dapur pergi terbang tinggi ke langit sampai 60 ribu per kilonya. Ya ampun, dialah si bawang merah. Jadilah selamat tinggal sambal di meja makan. Sayangnya meski bisa kubuat saus tomat, berhubung yang ini masih stabil, rasanya masih tak sebanding dengan menggugah seleranya sambal terasi atau sambal bawang. Yak, kembali lagi berimbas bahwa ternyataaaa…. Nenek menanam bawang di pekarangan.

Ya itulah, peristiwa heboh “CAWANG alias CAbe-baWANG” buat ibu-ibu RT selain peristiwa heboh “BBM” buat bapak-bapak RT (karena yang lebih rame bapak-bapaknya siy)  di tahun 2013 ini. Meski bukan menjadi masalah besar buat kami karena adanya dua pintu rizki dariku dan suami untuk keperluan rumah tangga mengatasi biaya perintilan begini, namun antisipasi tetap dilakukan untuk memberi pelajaran bagi diri sendiri dan keluarga bahwa ternyata menghasilkan produk tani macam itu tidaklah semudah membayangkan.

Alhamdulillah, pembelajaran jadi didapat karena akhirnya kita punya kerjaan browsing mencari informasi di waktu luang tentang bagaimana membuat pohon cabe berbuah banyak dan bagaimana pohon bawang berbuah besar dan banyak. Meski jujur saja produksi yang dihasilkan ternyata tidak juga banyak, sehingga terbukti pengalaman adalah guru terbaik. Barangkali suatu saat harus mencari ilmunya dengan belajar ke pembudidayanya langsung yaaaa.

At the end, applause untuk menteri pertanian, menteri perdagangan dan pejabat-pejabat berkompeten lainnya terkait di pemerintahan negeri ini, yang dengan kehebatannya mampu membuat cabe-bawang-daging sapi terbang ke langit. Sekali-kali kan mereka perlu jalan-jalan dan bersenang-senang ke langit dong, masa kita doang yang perlu jalan-jalan.

Dan kasihanilah para ayam-ayam petelur, memangnya bertelur itu enak. Coba liat deh ayam mau bertelur, berkotek-kotek gelisah terbang ke sana pindah ke sini gak bisa diam, gak taunya telurnya jatuh di kursi sofa reyot wkwkwk tenanglah dia. Koq ya kita enak-enakan makan telur. Jadi kan bagus kalo harga telur melejit juga berikut ayam-ayamnya, karena itu artinya kita sudah menghargai para hewan, agar kita bisa berpri-kehewanan.

Hahaha….. mengambil sisi hikmah saja, membuat diri nyaman dalam syukur.

Ann

18 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s