KENDALI DIRI

Dua hari yang lalu saya diutus instansi menjadi salah satu peserta dalam sebuah pelatihan/bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh PPM – LPKN. Fokusnya ke 2 jenis  pengadaan yaitu “Pengadaan Langsung dan Penunjukkan Langsung”. Kalau sudah malang melintang di dunia pengadaan, menyelami permasalahan hukum dan patgulipat usahanya para penyedia b/j, boleh dibilang yang satu itu sangat mudah pelaksanaannya, sedang yang satunya sangat dihindari/perlu pertimbangan tingkat tinggi untuk sampai pada keputusan Penunjukkan Langsung.

Namun demikian, dua hari itu terasa seperti angin segar di antara rutinitas kantor yang membosankan, bahkan kadang menjadikan diri ini tenggelam dalam kesibukan hingga lupa bagaimana mengembangkan potensi diri.

Jadi, tak salah jika kumaksimalkan kesempatan yang ada dengan berkata pada diri sendiri bahwa : “It cost, so I must find the value in it”.

Ada dua kalimat yang akan kusimpan dalam tulisan ini, karena kata-kata itu terngiang terus di kepalaku sampai saat ini, sederhana tapi tidak pernah diformulasikan selama ini. Kalimat tersebut tidak untuk dijadikan falsafah/tuntunan hidup, hanya sekedar rambu perhatian.

Kalimat yang pertama kuperoleh dari seorang motivator yang cukup ternama di tanah air pada pembukaan acara, tentang “update mindset” dengan pemikiran dan semangat energi positif. Bersumber dari abangnya Efendi Gozali :

bukan suatu dosa jika seseorang dilahirkan dalam kemiskinan, namun berdosalah jika seseorang menetapkan dirinya dan keluarganya hingga akhir hayat dalam kemiskinan”  Djohan Gozali.

Ini tentang berusaha maksimal hingga akhir hayat, berdosa bila seseorang terlahir dalam kemiskinan lalu membiarkan keluarganya dalam kemiskinan tanpa mau berusaha keras memberikan yang terbaik bagi keluarganya .

Kata miskin itu bisa bermacam makna, miskin harta, miskin ilmu, miskin kebahagian, miskin kasih sayang dan lain sebagainya. Jadi kalo sederhananya Bapakku pernah bilang dulu adalah : “Bapakmu ini berusaha agar besok kamu lebih baik dari Bapak, Nduk… Besok kamu juga harus demikian kepada anak-anakmu, lebih baik lagi”  Waktu itu kutelan mentah-mentah kalimat itu, tidak sampai berpikir bahwa aku perempuan, apakah mungkin bisa?? Nyatanya, memang aku memilih menjadi perempuan mandiri (saat ini). Dan nasihat Bapakku itu masih terhias indah di kepala.

Yang kedua kuperoleh dari Ir.Sutan S. Lubis, M.Sc yang pernah menjadi Ketua Tim Teknis Penyusun Perpres 54/2010

Kita tahu bahwa korupsi itu berdosa dan mendekatkan diri kita dalam neraka, namun alangkah egoisnya kita bila sampai  menjerumuskan anak dan istri kita ke dalam neraka atas hasil haram yang didapat”  

MasyaAllah…. Naudzu billahi min dzalik

H A T I  – H A T I…………………………………….

Secara esensi harfiah…. Bila direnungkan berkali-kali dan kutuangkan dalam tulisan ini, kedua isi kalimat tersebut bertolak belakang. Tapi bila digabungkan, akan berkait temali yang menguatkan satu sama lain. Sehingga ibarat dua kaki untuk berjalan, maka kedua kalimat itu menjadi sempurna…………… untuk dijadikan pegangan.

Tidak ada kesempurnaan di dunia ini, melainkan kesempurnaan untuk senantiasa :

“menyempurnakan setiap ketidaksempurnaan”.

Boleh lah juga kumengenang, saat Bapakku dulu bilang :

“Belajarlah untuk Melakukan Kendali Atas Dirimu” (marah, sedih, ngantuk, senang, bahagia, kecewa, semuanya harus dapat dikendalikan, hingga tepat pada takarnya)

 

Ann

25 September 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s