Selamat Jalan Dr. Didi Hendrawan, SPOG

Rasanya baru kemarin, ketika aku mendapat telpon dari ibuku yang mengabarkan hasil test kehamilan adikku di RS. Mitra Keluarga Depok. Semua shock, berharap dapat berita gembira dari dokter tentang hadirnya cucu kedua, eh…malah dapat berita miom diameter 5 cm yang harus diangkat segera.

Finally, beberapa hari setelah itu di bulan Juni tahun 2010, keluarga sepakat untuk mengikuti rujukan ibuku ke Dr. Didi Hendrawan, SPOG, yaitu dokter yang menangani kelahiran adik bungsuku di tahun 1995.

Image

Alhamdulillah, saat periksa adikku, suggestnya dokter Didi “kita liat perkembangan miom ini ya, 3 (tiga) bulan lagi datang kontrol. Tapi kalau sebelum itu ternyata kamu hamil, ya…. gak pa-pa”. Konsultasi saat itu membuat kami sekeluarga merasa lega.

Bulan Agustus 2010 berita gembira yang ditunggu datang. Adikku hamil di bulan ke-3 pernikahannya. Dan ternyata, bersamaan dengan kehamilanku. Selanjutnya,  dia kontrol dengan Dr. Didi di RS.Hermina depok, sedangkan aku memilih RS. Puri Cinere seperi kehamilan pertamaku di 2006.

Kehamilan adikku tetap menghadirkan rasa was-was bagi seluruh keluarga besar. Terlebih info di internet banyak yang menyatakan bahwa miom yang besar dapat mempengaruhi perkembangan janin. Atas permintaan ibuku, aku beralih ke RS.Hermina depok dan secara kontinyu kontrol ke dokter yang sama dengan adikku, Dr. Didi.

Awalnya aku merasa kurang nyaman karena dia dokter laki-laki, sementara di Puri Cinere biasanya aku ke Dr. Dewi Prabarini, namun aku merasa puas pada ketajamannya memperoleh gambar USG, penjelasan analisanya dan apa ya…. mungkin karena cukup comfort aja rasanya. Saran-saran yang diberikannya juga cukup relijius.

Kehamilan kedua memang lebih santai untukku, kadang aku juga mengulur-ulur waktu kontrol, tapi aku tetap mengawasi perkembangan adikku dan menanyakannya ke dokter Didi saat aku datang. Yang kuingat adalah keyakinannya pada Kuasa Allah dan kekuatan alamiah yang diluar keniscayaan kita sebagai manusia. Saat kutanya tentang pengaruh miom yang mengganggu perkembangan janin, Dr Didi hanya menjawab singkat “berdoalah… banyaklah berdoa saat hamil dan harus percaya”.

Masalah nambah lagi di minggu ke-5 kehamilan adikku, dia kena cacar yang cukup hebat disekujur tubuhnya sampai kepala, cacar pada minggu ke-5 kehamilan!!!.

Aku membatasi diriku untuk tidak berkunjung ke rumah ibu hingga sebulan lamanya, karena khawatir tertular cacar juga. Berita dan info di internet habis kulalap selama beberapa waktu, mengerikan!!!…. cacar itu berpengaruh pada cacat janin.

Adikku tetap kontrol ke Dokter Didi. Sementara aku mengikuti perkembangannya dari jauh saja, atau paling tidak kutanya dampaknya ke dokter Didi saat kontrol bulanan. Beliau hanya memasang muka “tidak senang” juga, dengan kesulitan menjawab pertanyaanku. Namun memintaku tetap bertawakal padaNya dan percaya. Meski demikian, di lubuk hati terdalam, perasaanku, tetap khawatir…….

Tak dapat rasanya membayangkan bagaimana kondisi janin adikku nantinya. Beberapa minggu setelahnya, adakah virus yang mempengaruhi perkembangannya, karena virus cacar adalah salah satu virus yang ditakuti selama masa kehamilan, salah satu dari TORCH. Bahkan di akhir bulan ke-7 pun, rasanya ibuku masih tak percaya dengan berat bobot janin hasil USG nya yang dikisaran 1300 gram.

Namanya seorang ibu, aku ambil usg anak pertamaku dan kuperlihatkan padanya. Dalam gambar di usia 7 bulan janin pertamaku juga di bawah 1500gram. “Masih normal bu” jawabku untuk membuatnya tenang.

Alhamdulillah, kenangan masa-masa itu terlalui pada akhirnya. Kekhawatiran-kekhawatiran yang ada pupus sirna di bawah KUASANYA, sang Khaliq. Adikku lahir normal dengan bayi yang normal pada 10 Mei 2010, sedangkan aku melahirkan secara SC/Caecar pada 21 Mei 2010. Keduanya bayi laki-laki yang sehat. Alhamdulillah ya Allah.

Pada bulan ke-4 pasca melahirkan, aku kembali kontrol ke Dokter Didi untuk program penundaan. Pasiennya tidak terlalu banyak saat itu, hanya saja  aku harus menunggu lama karena saat tiba giliranku suster minta jeda waktu. Dokter Didi ke dokter THT.

Pada saat giliranku masuk :

“Sakit apa dok? Koq jeruk makan jeruk” kataku bercanda

“Dokter kan juga manusia” jawabnya bercanda kayak lagunya siapa itu…. ^_^

“Habis suka mimisan nih hidung saya, takut kanker” jawabnya ramah dengan sedikit serius

“Amit-amit deh dok, jangan lah, jauh-jauh deh penyakit gituan, biar kanker kantong kering aja deh masih gak papa” jawabku asal, dia ketawa

That the last conversation.

Kemarin, 1 Agustus 2012 saat ibuku ke RS.Hermina untuk persiapan cucu ke-4nya. Beliau mencoba mencari tahu informasi Dokter Didi dari suster, karena bayi adikku yang satu ini gak turun/masuk panggul di minggu ke 39. Sampai kemarin siang, beliau menelponku memberi kabar.

“Ni, Dokter Didi sudah almarhum empat bulan yang lalu. Innalillahi wa inna ilaihi ro’jiun”.

Alangkah cepatnya waktu, semua berada di bawah KUASAMU ya ALLAH…. Selamat jalan dokter, semoga amalan baikmu, keihklasan dan dedikasi bertugas karena Allah menjadi balasan yang baik bagimu disana. Amiin.

 Image

Ann,

2 Agustus 2012

 

This entry was posted on Agustus 2, 2012, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. 8 Komentar

8 thoughts on “Selamat Jalan Dr. Didi Hendrawan, SPOG

  1. innalillahi waa innaillaihi rojiun….
    Begitu kagetnya aku pada saat browsing jadwal praktek Dr. Didi Hendrawan…malah berita duka yang aku dapat.
    Aku menangis, ngadu ke suami aku tentang berita yang aku dapat…betapa aku kehilangan beliau.
    Dr. Didi Hendrawan adalah dokter kandungan aku dari tahun 1996 sampai 2004. Tiga anak aku…dengan semua permasalahannya…semua ditangani sama Dr. Didi di RS. Jakarta.
    Bbrp suster nanya sama aku, kenapa aku cuma mau sama Dr. Didi…padahal banyak suster2 yang keliatannya nggak suka sama beliau.
    Memang bbrp kali kalau lg diruang praktek aku perhatikan suster2 itu selalu grogi…justru itu penyebabnya yang aku rasa ngebuat Dr. Didi “gemes” dan jd jutek melihat suster2 itu jadi kurang sigap mmbantu beliau.
    Buat aku…Dr. Didi adalah dokter kandungan yg terbaik. Beliau nggak pernah kesal dengan pertanyaan2 aku yg selalu khawatir dengan kondisi kandungan aku. Beliau bisa menenangkan kekhawatiran aku…juga menenangkan aku disetiap eksekusi melahirkan yg semuanya secara normal.

    Sekarang ada kista di ovarium aku. Ingin rasanya aku bisa ketemu beliau…untuk minta penjelasan ala beliau yang memang religius…yang selalu berusaha menenangkan ke khawatiran aku untuk setiap mslh reproduksi.

    Selamat jalan Dr. Didi…semoga Allah SWT membuatkan sebuah rumah untuk mu di surga di sisi Nya….
    Aamin…Aamin…Aamin YRA….

    • Pertama kali saya ucapkan trima kasih atas komentar ibu. Saya pribadi juga cukup kehilangan karena telah melalui beberpa moment besar dalam hidup saya atas jasa beliau. Semoga ibu juga segera mendapatkan dokter yang lebih baik lagi dan kembali sehat seperti sediakala. Amin yra

  2. dr didi atau kak didong biasa aku memanggilnya adalah sosok yg luar biasa bagiku. Anak2ku lahir juga lewat jasa Almarhum. Almarhum adalah kakak sepupuku dan juga dokter bagiku. Kehilangan yang sangat kami rasakan, karena proses sakitnya juga tidak lama. Kepergian Almarhum meninggalkan duka yang dalam bagi kami kel nya. Namun saat ini hanya do’a yang dapat kita sampaikan sebagai hadiah bagi nya, sebagai ungkapan rasa terima kasih. Semoga Alloh menerima semua amal ibadahnya, menjadikan kuburnya Raudhah Min Riyadil Jannah, dan mendapatkan tempat yang terbaik disisinya. Aamiin.

  3. saya putra pertama dr Didi Hendrawan, terima kasih atas Doa yang dihaturkan kepada ayahanda kami tercinta, semoga Allah memang memberi tempat terbaik baginya yang telah membantu banyak orang.

    sekali lagi terima kasih…

    • Sama-sama, saya haturkan terima kasih kepada anda dan keluarga. Tak ada gading yang tak retak, begitupun tak ada sesuatupun di dunia ini yang sempurna. Saya yakin anda sepatutnya bersyukur memperoleh seorang ayah yang dapat dijadikan panutan, terutama pada pengabdian profesi yang telah dijalani semasa hidupnya.
      Mohon maaf sekiranya tulisan saya mengusik kenangan anda kepada sang ayah, saya mohon izin karena semata-mata berniat memberikan informasi bukti bahwa ternyata penyakit cacar tidak mempengaruhi suatu kekurangan fisik apapun pada bayi adik saya. Umurnya sekarang sudah 3 tahun lebih dan sehat wal afiat.
      Meskipun secara ilmiah kemungkinan pengaruh ke janin itu ada, kekhawatiran saya yang berlebihan waktu lalu akibat membaca informasi di internet semoga tidak terjadi lagi. Sehingga calon ibu lain yang terkena cacar di usia janin muda tetap optimis untuk dapat melahirkan bayi yang sehat dengan tawakal kepada ALLAH ta’ala.
      Salam,
      Selamat berjuang dalam pengabdian profesi bagi kita semua.

  4. Kami turut merasa kehilangan Dr.Didi Hendrawan, SpOG, yang menangani kehamilan pertama istri saya hingga kelahiran anak pertama kami pada 21 July 2009. Saat ini kami kebingungan memilih dokter SpOG untuk konsultasi soal kandungan bagi istri saya. Jika Tuhan berkenan, kami berencana ingin punya anak ke-2.

  5. Beliau yang pernah membantu ibu saya di proses persalinan adik saya, anak ke-2 nya. dr Didi Hendrawan, SpOG murid terbaik dr. Lastiko Bramantyo, SpOG yang meng-educate ibu saya, bahwa ibu saya memiliki kesulitan melahirkan dengan proses normal karena tulang selangkangan yang berbentuk palung. Sehingga walaupun proses pembukaan jalan lahir sudah full, bayi yang mulai turun tetap akan tersangkut di palung rahim tersebut. HEBATnya beliau, ibu saya tetap dibantu tanpa harus proses SC di RS BHAKTI YUDHA Depok. 18 Mei 1987.

    Singkat cerita, …. tahun 2012 saat saya dinyatakan harus SC oleh dr. Nelwati, SpOG saya mencoba beralih ke dokter yang berpengalaman dengan kasus sulit tanpa melihat jenis kelamin dokter kandungan tersebut. Alhamdulillaah saya berhasil mendaftar sebagai calon pasien Dr.Didi Hendrawan, SpOG pada jadwal praktek 1hari sebelum beliau wafat di RSU Hermina Depok Jl. Siliwangi.
    Saat itu jadwal praktek beliau malam. Saya datang ke ruang suster dan langsung diinformasikan dr.Didi Hendrawan, SpOG dirawat di RS. MMC Jakarta Selatan. Hal itu di pertegas seorang cleaning service ISS yang hari itu bertugas, “Dr.Didi Hendrawan, SpOG sakit kanker lambung dan tadi pingsan saat ada di RS. MMC, Bu. Saya dengar supirnya ngabarin”.
    Saya pindah jadwal ke hari berikutnya, masih berharap bertemu beliau. Namun kabar duka datang melalui suster yang mengabarkan bahwa pasien Dr.Didi Hendrawan, SpOG harus pindah dokter untuk konsul. Sarannya ke Dr. Atjang Sukarja.SpOG karena Dr. Didi Hendrawan, SpOG telah berpulang.

    Perasaan saya menyesal, kenapa dari awal tidak memilih beliau saja sebagai dokter kandungan saya yang pengalaman dan dedikasinya sudah tidak perlu diragukan lagi. Karena awalnya saya malu di kehamilan pertama mau konsul ke dokter laki-laki. Karena akhirnya di dalam ruang operasi sebelum SC tetap sebagai pasien perempuan, saya merasa tidak nyaman dengan adanya dokter-dokter laki-laki dan perawat laki-laki yang termasuk dalam tim dokter dr. Nelwati, SpOG yang membantu proses SC.

    Semoga Allah memberi nikmat kubur dan melapangkan jalan mu Dok, serta menempatkan engkau di tempat terbaiknya seperti engkau memberikan ketenangan dan solusi terbaik pada semua proses persalinan yang engkau bantu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s