Kumis dan Kuya

Pagi ini baca Detik.com dengan judul “Protes Foke soal “Berkumis” akan dongkrak popularitas Hendardji”.

Jakarta Protes yang dilayangkan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli terkait slogan ‘Berantas Kumis’ dinilai akan menjadi bumerang. Komplain itu akan menguntungkan Hendardji-Ahmad Riza selaku pencetus slogan tersebut.

“Saya pikir tidak substansial perdebatan yang dilakukan tim Foke, sebenarnya di negara maju sindir menyindir komunikasi politik lucu yang sifat meyinggung itu sifat hal yang biasa,” kata pengamat komunikasi politik Universitas Padjadjaran Dedy Mulyana, saat dihubungi detikcom, Rabu, (6/6/2012).

Dedy menilai yang telah dilakukan tim sukses Foke justru akan mendongkrak kekenalan publik terhadap pasangan calon gubernur Hendarjdi-Ahmad Riza. Hal itu disebabkan karena isu tersebut akan terus dibahas di media dengan selalu mencantumkan pasangan dari jalur independen itu.

“Menurut saya apa yang dilakukan tim sukses Foke menjadi dongkrak bagi Hendardji dan menjadi bumerang buat Foke karena menjadi isu ini terus-menerus dibahas media dan berhasil menarik perhatian,” ujarnya.

Dedy mengatakan akronim yang dibuat oleh Hendardji masih dalam batas kewajaran, kecuali penghinaan melibatkan unsur suku, agama, ras dan antar golongan, sementara itu Hendardji sendiri sudah menjelaskan arti dari slogan tersebut.

“Kecuali penghinaan melibatkan unsur di suku, ras dan agama. Saya kira Hendardji sudah menjelaskan slogan dalam kumuh miskin sah tidak berkait dengan pelecehan suku, ras, agama dan antar golongan,” tandasnya. (edo/fjp)

Jadi teringat pembahasan tahun lalu di ruang rapat bersama Pak Agus Subiyakto dari UI sebagai salah satu timnya Pak Danisworo waktu memaparkan Tata Ruang Komplek Kemayoran dalam rancangan penyempurnaan UDGL (Urban Design Guide Line) Komplek Kemayoran.  Yup!! Istilah Kumis (kumuh miskin) dan Kuya (kumuh kaya) kala itu menjadi sorotan pembenahan.

Kumis memiliki kekhasan sifat suatu kelompok masyarakat, yang diberdayakan melalui program rumah susun bersubsidi di Komplek Kemayoran. Ternyata memang tidak mudah memindahkan masyarakat pinggir kali untuk tinggal di rumah susun meskipun kebijakan subsidi dengan harga jual murah dan kebijakan merubah pola kebiasaan sedemikian intensifnya. Hanya beberapa lama mereka tinggal di rumah susun selanjutnya mereka jual kembali ke pihak lain untuk mendapatkan keuntungan dan kembali ke pinggir kali. Sehingga seringkali program rumah-susun gagal.

Di sisi lain, banyaknya pemukiman padat penduduk dengan  rumah yang kurang layak huni atau sulit untuk akses masuk, menimbulkan budaya baru terlokasinya mobil kendaraan pribadi di pinggir-pinggir gang. Hal ini pun menjadi kumuh.

Tampaknya dua hal itu tidak hanya menjadi kenangan tersendiri di ingatan saya tapi juga Pak Hendardji hehehe… Jadi berita di atas bukan berantas kumisnya Foke koq, tapi budaya “Kumis”.

Secara pribadi siap menyaksikan ramainya pemilahan Gubernur DKI kali ini.

 

Ann

Juni 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s